Kota Bandung – Menutup kalender kerja tahun 2025, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bandung menyajikan potret performa yang menarik untuk dibedah. Sebagai institusi yang memegang amanah dalam tiga urusan krusial—pangan, pertanian, dan perikanan—DKPP tidak hanya sekadar memenuhi target administratif, tetapi juga menjadi garda terdepan dalam menjaga stabilitas konsumsi dan kesejahteraan masyarakat di tengah dinamika perkotaan yang kompleks.

Secara umum, kinerja DKPP tahun ini menunjukkan tren positif yang sangat signifikan. Hal ini tercermin dari capaian indikator utama yang melampaui target, mulai dari kualitas konsumsi pangan hingga kepuasan masyarakat terhadap layanan publik. Hal tersebut diungkapkan Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Gin Gin Ginanjar.

Transformasi Konsumsi: Lebih Beragam, Lebih Berkualitas
Urusan pangan sebagai “urusan wajib” menjadi indikator keberhasilan paling vital. Indikator utamanya, Skor Pola Pangan Harapan (PPH), berhasil mencapai angka 91,01, melampaui target yang ditetapkan sebesar 90,73 (realisasi 100,31%). Secara metodologis, skor di atas 85 dikategorikan sebagai “Baik”, menandakan bahwa penduduk Kota Bandung telah mengonsumsi pangan yang beragam dan bergizi seimbang.

Menariknya, hasil SUSENAS 2025 memberikan gambaran yang lebih mendalam mengenai pola makan warga:
Kecukupan Energi yang Proporsional. Tingkat kecukupan energi berada di angka 1.896 kkal/kap/hari. Meski terdapat sedikit penurunan konsumsi pada kelompok padi-padian, pangan hewani, dan lemak, hal ini tidak serta-merta negatif. Penurunan ini justru mengindikasikan perbaikan kualitas diet.

Masyarakat mulai beralih dari ketergantungan karbohidrat berlebih menuju peningkatan konsumsi sayur, buah, dan kacang-kangan. Tingkat kecukupan protein mencapai 105,90% dari standar ideal. Dominasi protein hewani (daging, ikan, telur, susu) dan nabati menunjukkan bahwa akses terhadap pangan bergizi di Kota Bandung tetap terjaga dengan sangat baik.

Di sektor “urusan pilihan” (pertanian dan perikanan), DKPP menunjukkan efektivitas kerja yang luar biasa. Target peningkatan produktivitas yang semula dipatok hanya 0,054%, secara mengejutkan melesat hingga 0,147%. Artinya, realisasi kinerja mencapai 273,76% dari target awal.
Peningkatan ini disumbang oleh tiga sektor utama:
Pertanian: Mencapai produktivitas 7,0890 Ton/Ha pada akhir tahun.
Peternakan: Mengalami kenaikan menjadi 1,7034 ekor/m².
Perikanan: Tumbuh positif menjadi 24,14 Ton/Ha.
Angka-angka ini bukan sekadar statistik, melainkan cerminan dari peningkatan daya dukung lahan dan efisiensi input produksi di wilayah perkotaan (urban farming).

Keberpihakan pada Kesejahteraan, Menghapus Kemiskinan Ekstrem

Satu hal yang patut diapresiasi adalah integrasi sektor perikanan dengan program sosial. DKPP terlibat aktif dalam Pensasaran Percepatan Penghapusan Kemiskinan Ekstrem (P3KE). Fokusnya bukan hanya pada jumlah ikan yang dihasilkan, tapi pada siapa yang menghasilkan.
Sepanjang 2025, DKPP telah menyalurkan bantuan sarana (seperti air pump blower dan pakan berkualitas) serta memberikan pelatihan teknis kepada 20 pembudidaya ikan yang masuk dalam kategori miskin ekstrem. Dengan realisasi tepat sasaran sebesar 100%, program ini menjadi bukti nyata bahwa urusan perikanan dapat menjadi instrumen pemberdayaan ekonomi masyarakat bawah.

Indeks Kepuasan Masyarakat
Indikator keberhasilan sebuah instansi pemerintah tidak lengkap tanpa pengakuan dari masyarakat sebagai penerima layanan. Melalui survei Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM), DKPP meraih nilai konversi sebesar 90,175 dengan mutu pelayanan berkategori “A” (Sangat Baik).
Dari 9 unsur pelayanan yang dinilai, aspek Sarana dan Prasarana (3.840) serta Biaya/Tarif (3.746) menjadi keunggulan utama. Masyarakat merasa fasilitas layanan DKPP sudah memadai dan transparansi non biaya yang sangat terjaga. Meskipun demikian, unsur penanganan pengaduan (3.416) tetap menjadi catatan untuk terus ditingkatkan di masa mendatang agar komunikasi antara warga dan dinas semakin responsif.

Buruan Saé Utama sebagai Napas Baru Kota Bandung

Menutup tahun 2025, DKPP Kota Bandung perlu juga mencatatkan capaian krusial dalam evolusi program urban farming terintegrasi Buruan SAE yang sudah mendapat penghargaan internasional berupa special mention dalam kategori food production dan food waste dalam ajang Milan Pact Award 2022 dan 2025.

Program unggulan DKPP ini sangat menopang ketercapaian indikator kinerja DKPP. Program yang dalam waktu dekat ini oleh Wali Kota Bandung Bapak Muhammad Farhan disandingkan dengan Kang Pisman dan Dapur Sehat Atasi Stunting (Dashat) sebagai segitiga sirkular bandung utama.
Program yang kini bertransformasi menjadi Buruan Saé Utama bukan lagi sekadar proyek pengadaan pangan rumah tangga, melainkan telah menjadi strategi pembangunan perkotaan yang berkelanjutan. Di bawah dukungan penuh Wali Kota Muhammad Farhan, Buruan Saé kini diposisikan sebagai gerakan budaya perkotaan yang inovatif. Logo baru bernuansa hijau-biru menjadi simbol keseimbangan ekologi dan resiliensi kota di tengah tantangan keterbatasan lahan.

Refleksi kinerja DKPP Kota Bandung tahun 2025 menggambarkan sebuah harmoni antara pemenuhan kebutuhan gizi, peningkatan produktivitas lahan terbatas, dan komitmen pelayanan publik yang prima.
Keberhasilan melampaui target PPH dan produktivitas pertanian-perikanan menjadi modal berharga. Namun, tantangan ke depan tetap besar, terutama dalam menjaga stabilitas daya beli masyarakat dan mengantisipasi perubahan iklim yang dapat memengaruhi distribusi pangan. Dengan capaian “Sangat Baik” tahun ini, DKPP Kota Bandung telah meletakkan fondasi yang kuat untuk mewujudkan kota yang tangguh pangan.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *