Kota Bandung – Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia dengan bangga mengumumkan keberhasilan pelepasan ekspor perdana arang batok kelapa dari Pelabuhan Batam, Kepulauan Riau, ke Tianjin, China. Ekspor ini merupakan langkah strategis dalam mendorong penguatan sektor UMKM dan hilirisasi komoditas kelapa nasional serta membuka peluang pasar internasional yang lebih luas bagi produk unggulan Indonesia.
Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia, Frits Novianto Suhendar, menyampaikan bahwa kerja sama ini adalah hasil kolaborasi erat antara KADIN Indonesia, Kadin Kabupaten Indragiri Hilir, Kadin Batam, dan Kadin Kepulauan Riau. “Program ekspor ini tidak hanya memberikan akses pasar baru, tetapi juga menjadi pemacu pertumbuhan ekonomi lokal melalui pemberdayaan UMKM di berbagai daerah,” ujar Frits.
Dalam kontrak ekspor yang telah ditandatangani, volume arang batok kelapa mencapai sekitar 36 ribu ton per tahun — setara dengan kebutuhan sekitar 125 kontainer per bulan — dengan nilai mencapai sekitar Rp 200 miliar per tahun. Produk tersebut akan dikirim secara berkala ke pasar China sebagai tahap awal kerja sama perdagangan komoditas ini.
Frits juga menambahkan bahwa kesepakatan ini mencakup langkah lanjutan berupa transfer teknologi dari mitra China, termasuk pengiriman peralatan yang dapat mempercepat proses produksi di dalam negeri. Hal ini membuka peluang hilirisasi teknologi dan peningkatan kapasitas produksi.
Program ekspor arang batok kelapa ini telah melibatkan puluhan UMKM yang tersebar di empat kecamatan di Kabupaten Indragiri Hilir, dengan basis produksi dari kelompok usaha rumahan. Dampak positif dari kegiatan ini tidak hanya dirasakan oleh pelaku UMKM, tetapi juga sektor pendukung lainnya seperti perusahaan pelayaran, forwarder, pelabuhan, serta tenaga kerja di pelabuhan yang terlibat dalam proses logistik.
Sebagai pelabuhan ekspor utama saat ini, Batam dipilih karena fasilitasnya yang lebih siap dan dekat dengan jalur perdagangan internasional. KADIN Indonesia juga melihat potensi besar untuk memperluas keterlibatan daerah sumber bahan baku seperti Kepulauan Riau, sehingga ke depan dapat meningkatkan pemberdayaan daerah serta memperkuat rantai nilai industri kelapa nasional.






