Nama Miss Tjitjih diambil dari nama seorang seniman yang tinggal disekitar pendopo Kabupaten Sumedang yang juga pejuang pada masa pergerakan dahulu.

Tjitjih lahir di Sumedang di tahun 1908 dan memulai karir dalam sandiwara atau toonil sejak tahun 1926 atau 2 tahun sebelumnya lahirnya sumpah pemuda.

Baca juga:  Atalia Launching Kedai Pramuka Kwarda Jabar

“Miss Tjitjih ini sosok luar biasa, perempuan yang terlahir dan besar di Sumedang, Ia mampu menguasai 3 seni sekaligus, yaitu Seni Suara, Seni Tari dan seni akting,” kata dia.

Hasanuddin juga menceritakan keterlibatannya dengan pembangunan Gedung Kesenian dan Sandiwara Miss Tjitjih yang berada di Jakarta.

Baca juga:  ”Rest Area" KM 59 Tol Cikampek, Layanan Pemudik Perempuan dan Anak Telah Siap

“Sekitar tahun 2000an kami mengajukan kepada pihak Pemprov DKI untuk dibangunkan Gedung Kesenian, khususnya untuk Sandiwara, dengan kapasitas 250 orang dan ber-AC,” katanya.

Pertunjukan Miss Tjitjih roadshow di Sumedang membawakan lakon Sunda horor berjudul “Acih Mati Beranak di Mangga Dua” dan dihadiri ratusan masyarakat Sumedang. *(roska)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *