Iqwan menegaskan meski memiliki banyak manfaat, peralihan TV analog ke digital akan menimbulkan hal-hal negatif pada masa awal migrasinya.

“Intinya ini produk lama. Bahkan belanda yang paling pertama melakukan ASO ini dan kami sebagai jurnalis menyatakan migrasi ini banyak manfaatnya tapi di tahap pertama banyak negatifnya,” jelasnya.

Di tempat yang sama, Ketua Umum ATSDI Eris Munandar menegaskan jika migrasi TV analog ke digital akan memberikan dampak positif. Ia menjelaskan dari sisi penggunaan, migrasi tersebut akan membuat frekuensi yang digunakan akan jauh lebih efisien.

Baca juga:  Satukan Tujuan Petugas Kehumasan Kabupaten dan Kota di Jawa Barat Melalui Portal Jabarprov.go.id

“ASO ini bukan hanya soal teknologi saja tapi juga sesuatu yang luar biasa. Frekuensi 700 MHz yang sangat boros digunakan industri TV analog semestinya biaa digunakan untuk kepentingan lain,” ujar Eris.

Eris mengungkapkan frekuensi yang ditinggalkan TV analog dapat digunakan untuk memperkuat sistem pertahanan keamanan dan juga jaringan internet di Indonesia.

Pasalnya kata dia, saat ini Indonesia masih jauh tertinggal soal urusan kecepatan internet di Asia Pasifik.

“Jadi bisa untuk sistem pertahanan keamanan, kemudian menambah pita lebar internet Indonesia yang masih nomor sekian di Asia Pasifik. Bandung saja masih urutan ke tujuh di Indonesia saat ini,” ungkapnya.

Baca juga:  Ditahan Imbang Persebaya, Persib Masih Kuntit Bali United di Posisi dua

Dengan bertambahnya kecepatan internet khususnya di Jabar, Eris meyakini juga akan berdampak pada tumbuhnya pelaku ekonomi kreatif digital yang jauh lebih besar dari yang sudah-sudah.

Seperti diketahui, saat ini kebutuhan industri televisi dalam negeri membutuhkan pita frekuensi 700 MHz. Dengan beralih ke digital, maka hanya dibutuhkan sekitar 588 MHz saja. Artinya 112 MHz sisa dapat dimanfaatkan untuk jaringan berkualitas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *